Menilik Pesan di balik Corona: Sebuah Renungan (Bagian 1)

Oleh: Dr. HM. Zaenuddin, S.Si., MSc.
Datang sebagai pandemi, sungguh tak diduga dan tak dinyana. Dia tak nampak, tapi nyata bahayanya. Ribuan korban meninggal di Amerika dan Italia, serta berbagai belahan dunia lainnya adalah sebuah fakta. Tak peduli negara besar dan adidaya, tak peduli negeri yang merasa aman sebelumnya. Kini telah merata. Nyaris hampir seluruh negara di dunia telah terpapar olehnya. Dia telah menembus batas-batas yang telah dibuat manusia.
————————————————-*
Corona datang membawa pesan, merontokkan keangkuhan manusia. Kekuatan senjata menjadi tak berdaya, kekuatan ekonomi menjadi porak poranda, penguasa dan pemimpin menjadi lemah tak berdaya. Negara kuat menjadi sekarat, negara miskin menjadi kian memprihatinkan. Dia tidak hanya memapar rakyat jelata, para pemimpin dan penguasa dihampiri ketakutan yang nyata. Bayang ‘kehancuran’ ada di depan mata, bukan karena dahsyatnya senjata, bukan juga pertarungan perang dunia. Dia tak nyata, tapi pesan kematian disampaikan tiap saat di semua negara. Tidakkah ini membawa pesan nyata untuk kita, sungguh betapa lemahnya manusia dengan segala atributnya. Karenanya, kini, masih adakah negara yang merasa digdaya karena kekuataanya, masih adakah manusia yang masih sanggup menyombongkan kekayaan, kuasanya dan segala yang dimilikinya, masih adakah pribadi yang masih sempat mengagungkan dirinya, menguatkan ego dirinya dan kelompoknya, merasa paling kuat dan benar sendiri, mencemooh dan merendahkan yang lainnya. Cukuplah kawan, tidakkah cukup pesan yang dibawa sang corona sudah lebih dahsyat dari yang kita kira…
—————————————————–*
Corona datang membawa pesan, betapa berharganya interaksi sosial di antara kita. Kini, virallah istilah ‘social distancing’, yang berarti harus ada ‘jarak sosial’ di antara kita. Istilah ini seakan makin membuat sekat hubungan di antara kita, seakan terasa hilang hangatnya sapa menyapa antar kita. Padahal, bisa jadi, dulu sudah terbiasa acuh di antara kita. Pada titik ini, seakan Tuhan tengah mengingatkan kita, mengapa dulu kalian hanya sibuk bekerja, tak bertegur sapa dengan tetangga, tak menyapa kawan di sebelahnya. Bahkan tak peduli sahabat dan kerabatnya. Tak ada senyum sapa, saling membantu dan memberikan doa. Semuanya sibuk urusan kerja. Kamu adalah kamu, saya adalah saya. Dulu, kita anggap biasa saja. Padahal, sekali lagi, sejatinya, ‘social distancing’ sudah kita lakukan tanpa kita sadarinya. Tetapi kini, mengapa pesan itu terasa berat dijalani oleh sebagian kita, bahkan sebagian menganggapnya mengada-ada. Mengapa setelah corona datang, sebagian merasa asing dan berat untuk menjalaninya, padahal sejatinya ‘social distancing’ secara tak sadar sudah dilakoninya. Bisa jadi melalui sang corona, Tuhan mengingatkan dan ‘menjewer’ kita dengan menitip pesan, hey, jangan kira kau akan sanggup hidup sendiri tanpa pernah berinteraksi sosial dengan yang lainnya, kau pasti akan butuh yang lainnya, maka ingatlah dan sadarlahkawan, nanti, kau harus biasakan kembali bgmn bersapa dan berinteraksi dgn lainnya, menumbuhkan empati dan membantu yang lainnya. Interaksi sosiallah nantinya jangan kau buat ‘social distancing’ di antara kita. Karena, kini, kau tahu betapa beratnya instruksi’ sosial distancing’ yang harus dilakoninya, sungguh sang corona datang membawa pesan nyata untuk kita…
——————————————————–*
Corona datang, sekolah diliburkan. Tak pasti entah sampai kapan. Anak-anak dikembalikan ke pangkuan orang tuanya. Dulu, sebagian besar orang tua seakan tak peduli dengan perkembangan pendidikan anaknya. Tak mau tahu karena dianggap sudah kewajiban para gurunya. Tak boleh ada guru yang salah. Beratnya beban sang guru, bertumpuk tugas administrasi dan makin rumitnya birokrasi pengajaran. Belum lagi kebijakan yang gonta-ganti. Bandelnya anak yang kian tak terkira. Ditambah lagi tekanan orang tua yang seakan tak peduli kondisi sebenarnya. Tak senua memang, tapi begitulah rata-ratanya. Kini setelah anak-anak dipulangkan sementara, terasa benar berat mendidik anak-anaknya. Banyak orang tua yang pusing keliling dibuatnya. Polahnya, malasnya, bandelnya. Saatnya, berinstropeksi. Corona telah memulangkan sementara siswa ke rumahnya, agar mendekatkan anak ke orang tua, agar orang tua makin peduli dengan kondisi pendidikan anak-anaknya, dan menyadari beratnya tugas sang guru di sekolahnya. Sejatinya, tanggung jawab pendidikan adalah orang tua, guru hanyalah membantu dan meringankan tugas beratnya. Corona datang membawa pesan, hormatilah guru dengan semestinya, karena merekalah yang sebenarnya telah menggantikan peran kita sebagai orang tua, untuk mengajar dan mendidik anak kita, dan ternyata memang tidaklah mudah mendidik anak-anak kita sendiri, tapi mengapa dulu kita sering meremehkan dan memandang sebelah mata peran para guru-guru kita. Melalui, sang corona , menitipkan pesan bermakna untuk kita…
———————————————*