SEKILAS INFO
  • 5 tahun yang lalu / Infaq/Wakaf Pembangunan Masjid Kampus – Politeknik Negeri Batam:  Bank Syariah Indonesia Batam, No. Rek. 8009-415-840 (Rekening Baru)
WAKTU :

Islam, Ramadan dan Frekuensi Alamiah

Terbit 24 April 2020 | Oleh : Masjid Kampus | Kategori : Tadabur
Islam, Ramadan dan Frekuensi Alamiah

Oleh: Ahmad Riyad Firdaus, PhD.

Maha Mulia Allah SWT yang telah menciptakan setiap makhluknya berpasang-pasangan, ada laki-laki ada perempuan, ada siang ada malam, ada daratan ada lautan, ada kehidupan ada kematian, ada kebenaran ada kebathilan dan lain sebagainya. Sebagaimana difirmankan dalam AlQur’an:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Semua penciptaan itu sudah pasti ada hikmahnya yang perlu direnungkan dan ditadabburi, sebagaimana Ibnu Katsir Rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya [1]

جميع المخلوقات أزواج: سماء وأرض، وليل ونهار، وشمس وقمر، وبر وبحر، وضياء وظلام، وإيمان وكفر، وموت وحياة، وشقاء وسعادة، وجنة ونار، حتى الحيوانات [جن وإنس، ذكور وإناث] والنباتات ولهذا قال: { لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ } أي: لتعلموا أن الخالق واحدٌ لا شريك له

“Setiap makhluk itu berpasang-pasangan. Ada matahari dan bumi. Ada malam dan ada siang. Ada matahari dan ada rembulan. Ada daratan dan ada lautan. Ada terang dan ada gelap. Ada iman dan ada kafir. Ada kematian dan ada kehidupan. Ada kesengsaraan dan ada kebahagiaan. Ada surga dan ada neraka. Sampai pada hewan pun terdapat demikian. Ada juga jin dan ada manusia. Ada laki-laki dan ada perempuan. Ada pula berpasang-pasangan pada tanaman.” “Oleh karena itu Allah menyatakan ‘supaya Kami mengingat kebesaran Allah’, yaitu supaya kalian mengetahui bahwa Pencipta itu semua hanya satu, Dia tidak bersekutu dalam hal itu.”

Subhanallah, dengan hikmah keberpasangan penciptaan ini akan membuat sistem alam menjadi simetris untuk menciptakan keseimbangan, yang pada akhirnya keindahan penciptaan ini akan dirasakan dan dinikmati oleh segenap makhluk Allah yang ada dimuka bumi ini untuk mengenal sang pencipta yang Maha Esa.

Manusia dan Makhluk Allah Lainnya

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT yang paling sempurna melebihi makhluk-makhlik lainnya. Manusia didisain dengan struktur tubuh yang luar biasa sempurna dan indah dibanding hewan, dan tumbuhan. Kesempurnaan fisik ini ini ditambah dengan diberikannya akal dan fikiran oleh Allah SWT yang membuat berbeda dengan makhluk lain. Selain dari itu, hawa nafsu yang menghiasi manusia sangatlah lengkap seperti keinginan untuk makan, minum, syahwat, dan lain-lain yang membuat manusia lebih dinamis dibandingkan dengan malaikat dan iblis. Tidak seperti manusia, malaikat tidak diberikan hawa nafsu oleh Allah SWT. Mereka tidak diberikan keinginan untuk makan, minum, syahwat, dan nafsu-nafsu lainnya yang dimiliki oleh manusia. Kemuliaan mereka diciptakan hanya untuk bertasbih dan memuji kebesaran Allah, seperti terekam dalam firman Allah SWT ketika akan menciptakan manusia di muka bumi sebagai khalifah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah:30).

Berbeda dengan malaikat, iblis diciptakan menjadi makhluk yang paling hina, mereka hanya diberikan hawa nafsu untuk senantiasa inkar akan kebenaran-kebenaran dari Allah SWT. Mereka diciptakan untuk merusak dan mengganggu keberadaan manusia agar keluar dari jalur-jalur yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana dalam firmanNya:

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا

Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil” (QS. Al-Isra: 62).

Oleh karena itu, tidak ada makhluk lain yang dapat menandingi kemuliaan dan kesempurnaan manusia. Sehingga, dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh manusia, Allah menyatatakan dalam firmanNya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS. Al-Isra: 70)

Manusia, Hawa Nafsu, dan Penciptaan Alam

Hal yang perlu digarisbawahi bahwa kemuliaan manusia akan ditentukan dengan bagaimana mereka dalam mengelola hawa nafsunya, karena Allah SWT menciptakan nafsu yang melekat pada diri manusia secara berpasangan, yaitu nafsu yang menyeru pada kebaikan dan nafsu yang menyeru pada kejahatan. Namun secara natural atau alamiah, bahwa nafsu yang bersandar pada manusia akan senantiasa menyeru pada kejahatan, seperti dalam firman Allah SWT.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang (QS. Yusuf: 53)

Karateristik alamiah dari nafsu ini mengindikasikan bahwa manusia itu pada dasarnya cenderung labil, tidak stabil atau dalam bahasa ilmiahnya adalah selalu dalam keadaan berosilasi/bervibrasi. Hal ini tidak saja hanya berlaku pada diri manusia, seluruh alam semesta ini diciptakan dengan potensi tidak stabil atau berosilasi/bervibrasi yang memiliki frekuensi alamiah (natural frequency). Hal ini selaras dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Albert Einstein, bahwa “Everything in Life is Vibration” [2]  atau dengan kata lain, hukum alam menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini memiliki sebuah getaran (berosilasi) [2]. Kondisi ini membuat alam semesta beserta isinya akan dinamis/berubah/bergerak, sebagaimana difirmankan dalam Al-Quran:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Fushilat: 39).

Jika berbicara tentang dinamika sistem, kondisi alam beserta isinya dimodelkan secara sederhana dalam lingkar tertutup (close loop) melalui pendekatan 2nd order systems serta dalam ranah frekuensi akan diperoleh format standar sebagai berikut [3]:

2nd_order

Dimana  omega dan  Zeta merepresetasikan frekuensi alamiah (natural frequency) dan rasio redaman (damping ratio) secara berurutan. Kedua parameter tersebut sangat menentukan stabil atau tidak nya sebuah sistem. Frekuensi alamiah adalah frekuensi dimana sistem akan berosilasi jika rasio redaman berkurang menuju nol atau dengan kata lain obyek akan berosilasi/bervibrasi secara alamiah walaupun tidak ada gangguan yang mengenai obyek tersebut, sedangkan rasio redaman adalah parameter yang dapat meredam osilasi dari system.

Kalau dilihat dari sudut pandang manusia, dimana manusia adalah sebagai sebuah sistem atau obyek, maka frekuensi alamiah yang ada pada diri manusia adalah hawa nafsu yang secara alamiah akan mengajak atau mengarahkan manusia kepada kejahatan seperti yang terekam dalam surah Yusuf ayat 53. Manusia akan senantiasa labil, manusia senantiasa akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma agama, tidak stabil atau dalam bahasa fisikanya adalah berosilasi/bevibrasi. Untuk dapat meredam/mengendalikan ketidakstabilan yang ada pada diri manusia, maka dibutuhkan faktor redaman yang cukup sehingga manusia kembali berada pada jalur yang diridhai oleh Allah SWT. Nilai-nilai Islam adalah faktor redaman yang cocok dan efektif untuk meredam, mengarahkan, dan mengelola hati dan jiwa manusia, sehingga nafsu yang tadinya bersemayam dalam diri manusia itu labil akan menjadi tenang dan tentram (nafsul muthmainnah).

Allah SWT telah menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama diridhoi yang harus dijadikan pegangan dan rujukan bagi umat manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia, seperti yang tercantum dalam Al Qur’an:

إن الدين عند الله الإسلام

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

Sehingga tidak diragukan lagi bahwa Islam adalah agama yang Allah SWT pilihkan bagi segenap manusia sejak zaman Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW, yang secara otomatis akan sesuai dengan fitrahnya manusia.

Ramadan dan pengendalian diri

Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat agung karena terdapat banyak sekali keutamaan-keutamaan yang dapat diperoleh umat manusia selama bulan tersebut, seperti dalam hadits  yang diriwayatkan Ahmad:

قد جاءكم شهر رمضان شهر مبارك، افترض الله عليكم صيامه، يفتح فيه أبواب الجنة، ويغلق فيه أبواب الجحيم، وتغل فيه الشياطين، فيه ليلة خير من ألف شهر

”Sesungguhnya telah datang Bulan Ramadlan, bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa, pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan”. (HR. Ahmad).

Bulan Ramadan adalah bulan pengendalian diri yang memiliki banyak dimensi tarbiyyah (pendidikan) [4] untuk mengasah dan menala kembali rohani kita. Dengan berpuasa, pemenuhan kebutuhan jasmani akan terkurangi, sehingga rohani akan memiliki peranan yang sangat dominan yang pada akhirnya jiwa akan terbebaskan dari  belitan nafsu jasmaniah.

Pada bulan Ramadan, manusia dipaksa untuk dapat mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan negatif yang dapat membatalkan pahala ibadah puasa, seperti yang diungkapkan dalam sebuah hadits [5]:

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“ Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak peduli ia meninggalkan makan dan minumnya “.(HR. Bukhari)

 Nabi juga bersabda :

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش

“ Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus “ (HR. Al-Hakim; sahih ‘ala syartil Bukhari)

Juga dalam hadits yang lain:

الصائم في عبادة من حين يصبح إلى أن يُمسي ما لم يغتب، فإذا اغتاب خرق صومه

“ Orang yang berpuasa di dalam beribadah sejak pagi hingga sore hari semenjak ia tidak berghibah, jika ia berghibah maka ia telah merusak (pahala) puasanya “. (Hadits ini diisyaratkan dhaif oleh imam as-Suyuthi)

Pada akhirnya, dengan memanfaatkan momentum bulan Ramadan, manusia diharapkan dapat menala kembali hati dan jiwanya sehingga diperoleh faktor redaman yang optimal untuk memperkecil nilai osilasi dari frekuensi alamiah hawa nafsu yang ada pada diri manusia. Nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang dan tentram) adalah tujuan akhir dan harapan setiap insan karena dengan jiwa yang tenang tatanan kehidupan manusia akan tertata dengan baik. Kebahagiaan akan senantiasa menyertai kehidupan manusia.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُۖارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةًۖفَادْخُلِي فِي عِبَادِيۖوَادْخُلِي جَنَّتِي

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr: 27-30)

Wallahu’alam

 

Referensi

[1] http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-adz-dzariyat-ayat-47-51.html [diakses: Senin, 13 Juni 2016]

[2] http://altered-states.net/barry/newsletter463/ [diakses: Senin, 13 Juni 2016]

[3] K. Ogata,  Modern Control Engineering 5th Edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall,Inc., 2010.

[4] http://keluargabahagia.org/puasa-bulan-ramadhan-dan-pengendalian-diri-1.html [diakses: Selasa, 13 Juni 2016]

[5] http://www.aswj-rg.com/2014/06/maksud-hadits-lima-perkara-yang-membatalkan-pahala-puasa.html [diakses: Selasa, 13 Juni 2016]

 

SebelumnyaMenilik Pesan di balik Corona: Sebuah Renungan (Bagian 1) SesudahnyaJANGAN PERNAH LELAH UNTUK BERDO'A, KARENA DO'A ITU INDAH

Tausiyah Lainnya