SEKILAS INFO
  • 5 tahun yang lalu / Infaq/Wakaf Pembangunan Masjid Kampus – Politeknik Negeri Batam:  Bank Syariah Indonesia Batam, No. Rek. 8009-415-840 (Rekening Baru)
WAKTU :

Be Optimistic !

Terbit 29 April 2020 | Oleh : Masjid Kampus | Kategori : Muhasabah
Be Optimistic !

Oleh: Ahmad Riyad Firdaus, PhD.

“BE OPTIMISTIC”, quote yang indah nan penuh makna, yang seyogyanya mengkarakter dalam diri seorang mukmin. Jadilah pribadi mukmin yang senantiasa penuh dengan optimisme, berpikiran positif dan memotivasi untuk senantiasa memiliki visi akhirat dan mencari keridoan Allah SWT, karena semua itu adalah karakter seorang mukmin sejati.

Internalisasi sikap optimis dalam diri seorang mukmin adalah sebuah keniscayaan. Seorang mukmin yang langkah kehidupannya selalu dipenuhi dengan optimis akan selalu kuat dan tegar manakala menghadapai suatu masalah dan cobaan apapun dalam kehidupannya. Ia akan selalu berikhtiar mencari solusi yang terbaik tanpa kenal lelah, dan bertawakkal menyerahkan diri sepenuhnya ke haribaan ilahi, karena seluruh usaha tidak akan mencapai tujuan yang berarti tanpa kehendak yang Maha Kuasa, Allah Azza Wajalla.  Sikap tidak putus asa dan selalu yakin bahwa di balik semua taqdir Allah ada hikmah yang besar yang bisa diambil manfaatnya.

Islam mendidik seorang mukmin untuk selalu bangkit menyongsong hari esok dengan penuh harapan baru dan semangat yang menggelora dalam menata kehidupan yang lebih baik, meningkatkan amal shalih, iman dan ketaqwaan,  serta memupuk cinta hakiki kepada Allah SWT, tidak pernah menoleh kebelakang untuk semakin terpuruk dalam penyesalan masa lalu, tapi pelajaran berharga yang selalu ditanamkan dalam hati sanubari.

Hadapilah masa depan dengan penuh harapan positif yang disertai dengan kebahagiaan. Jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah SWT, karena Allah SWT Maha Rahman dan Rahim terhadap hambaNya.

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“….. jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.(QS: Yusuf 87)

Al-Hulaimi rahimahullah mengatakan: “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam suka dengan optimisme, karena pesimis merupakan cermin persangkaan buruk kepada Allah tanpa alasan yang jelas. Optimisme diperintahkan dan merupakan wujud persangkaan yang baik. Seorang mukmin diperintahkan untuk berprasangka baik kepada Allah dalam setiap kondisi.” (Fathul Bari`, 10/226)

Optimisme butuh aksi dan langkah nyata, bukan hanya untaian kata-kata. Kesuksesan diawali kesungguhan kerja dan usaha. Seseorang tidak akan pernah pintar, tanpa belajar; tidak akan pernah kaya tanpa usaha; tidak akan pernah sehat tanpa berprilaku hidup sehat; dan usaha-usaha lainnya. Karena ikhtiar adalah sebuah kewajiban bagi setiap mukmin agar bisa mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Allah SWT telah mengingatkan kita dalam FirmanNya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS: Ar-Radu 11)

Hidup ini hakikatnya adalah belajar, beramal dan bersabar serta mengiringi semua ikhtiar yang kita lakukan dengan penuh optimisme. Yakinlah, kesulitan-kesulitan yang kita hadapai dalam kehidupan, terdapat sejuta kemudahan yang Allah sajikan untuk hambaNya. Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah : 5-6)

Seorang mukmin sejati dalam segala situasi dan kondisi harus bergantung hatinya kepada Allah. Memperbanyak doa dan husnudzan kepada Allah, karena Allah akan memberikan pilihan terbaik bagi hambaNya meski terkadang tidak selaras dengan nafsu manusia.

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Al-Hasan al-Basri mengatakan : “Sesungguhnya tawakal seorang hamba kepada Rabbnya adalah ia meyakini bahwa Allah itu sumber kepercayaan dirinya.” (Al-Fawa’id, 149).

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

 

 

SebelumnyaJANGAN PERNAH LELAH UNTUK BERDO'A, KARENA DO'A ITU INDAH

Tausiyah Lainnya